berita terkini desa, info pertanian, artikel peternakan, pendidikan di pedesaan dan pengembangan ekonomi desa>

Mendirikan Rumah Baca Ala Tumpi Readhouse

rumah baca tumpi di desa pentur
rumah baca tumpi di desa pentur

Tak terasa sudah sekitar 5,5 tahun saya telah melewati “jalan sunyi” di rumah baca ini. Sejak belum menikah hingga kini telah punya dua anak.

Entah sudah ada berapa orang yang telah berinteraksi dengan tempat ini, dan sayapun juga tidak tau pasti apa yang telah mereka dapat ketika berkunjung disini. Semoga saja, apa yang telah dilakukan kawan-kawan disini -yang hanya bermodal niat dan cara yg baik- hasilnya mudah-mudahan juga baik.

Semua seolah mengalir saja, saat lelah ya istirahat, ngantuk ya tidur, lapar ya makan, tak punya uang ya kerja, ndak cukup ya utang, terus dan terus seperti itu. Apanya yang hebat? Kehidupan juga masih berjalan biasa-biasa saja.

Kadang saat ada orang datang dan tanya-tanya tentang Tumpi, saya merasa geli. Pertanyaan selalu sama, jawaban juga hampir sama, dan semua yang kuceritakan adalah tentang mimpi. Mimpi tentang keluarga kecil yang saat ini masih terus terbuai dengan harapan masa depan yang lebih baik.

Berikut ini saya tuliskan beberapa pertanyaan penting yang sering dilontarkan ke saya;

Tanya (T) : Mas tolong ceritakan motivasi awal didirikannya Tumpi.

Jawab (J) : Dulu saat saya pacaran dengan istri, kami punya beberapa buku koleksi pribadi yang hanya tersimpan dikamar. Daripada hanya jadi pajangan lebih baik dibuat semacam rumah baca yang bisa diakses oleh siapapun. Rumah baca yg akan didirikan adalah bentuk persiapan kami untuk menyongsong kelahiran anak kami kelak. Harapannya, jika nanti anak sudah lahir dia akan tumbuh dan berkembang dilingkungan yang lebih baik.

T : Bagaimana cara melibatkan orang lain dalam merintis rumah baca ini?

J : Berbicara pendidikan untuk anak, sebenarnya itu kebutuhan dan kepentingan pribadi setiap keluarga. Lha tinggal bagaimana kita satukan kepentingan pribadi itu dengan orang-orang yg memiliki pemikiran yg sama, sehingga menjadi kepentingan bersama.
Kepentingan saya terhadap rumah baca saat itu saya ceritakan kepada teman-teman di kampung, dan mereka sepakat bahwa anak-anak mereka kelak juga harus berada di lingkungan yg terbaik. Mereka mau bergerak, dan akhirnya terealisasi tahun 2012.
Kami sepakat, tak usahlah marah-marah dan mengutuk lingkungan pergaulan yg buruk jika kita saja hanya bisa berdiam diri. Sedikit banyak perilaku anak adalah cerminan dari perilaku orang dewasa di lingkungannya.

T: Bagaimana cara mendapatka buku sebanyak ini?

J: Kami mengumpulkan buku yang kami punya, kemudian masing2 orang juga menghubungi tetangga terdekat, teman sekolah, teman kerja, dan siapapun yang punya buku untuk mau menyumbangkan ke rumah baca. Apapun bukunya.
Selain mengumpulkan buku, saat itu kami dan kawan-kawan juga meminta tolong kepada bapak-bapak di kampung untuk merenovasi rumah bekas dapur. Saat proses renovasi berjalan, kamipun membuat media sosial, mendokumentasi, dan sekaligus penggalangan buku melalui media sosial tersebut. Akhirnya semakin hari semakin bertambah.
Selain dari sumbangan publik, Tumpi juga pernah mendapatkan buku dari hibah Perpusda Prov. Jateng, dan beberapa komunitas pegiat literasi.

T: Bagaimana minat baca masyarakat?

J : Pada awal berdiri rumah baca memang ramai, tapi lambat laun menurun. Maka dari itu kami menyelenggarakan berbagai kegiatan bersama Karang Taruna. Bagi kami, rumah baca tanpa kegiatan sama halnya seperti rumah hantu. Dari adanya berbagai kegiatan, saat ini rata2 yg datang 40 orang/hari, didominasi oleh anak-anak.

T: Kegiatan apa saja yg ada di Tumpi?

J: Ada kegiatan rutin, ada juga kegiatan yg sifatnya eventual. Kegiatan rutin ada TPQ untuk anak, membuat kebun sayur dengan kelompok tani dan arisan kelompok UMKM.
Kegiatan eventual misalnya menyelenggarakan berbagai pelatihan, layar tancap, dan kampanye Ulang Tahun Hijau yaitu penanaman pohon bagi siapapun yg sedang berulang tahun. Kami bersama warga pernah menanam sekitar 7.500 pohon bantuan dari BPTH Prov. Jawa Tengah.

T: Apa kendala yg dihadapi selama ini?

J : Permasalahan klasik adalah pendanaan untuk operasional rumah baca, seperti biaya listrik, koneksi internet, perawatan buku, penyelenggaraan kegiatan dll.
Kemudian keterbatasan Sumber Daya Manusia karena di desa kami sebagian besar pemuda merantau ke kota.
Tidak adanya SDM menyebabkan administrasi rumah baca tidak berjalan dengan semestinya.

T: Selama ini sumber dana dari mana?

J : Sebagian besar dari kantong pribadi, karena bagi kami pendidikan juga salah satu bentuk investasi. Kemudian sumbangan dari teman, kadang dari lembaga mitra, pernah cari sponsor tapi belum berhasil.

T: Peran pemerintah saat ini?

J: Untuk pendanaan belum pernah ada. Hanya saja selama ini mendapatkan pendampingan dari Perpusda Boyolali, maklum sejak tahun 2013 Tumpi berstatus sebagai Perpustakaan Desa. Tahun 2017 ini, atas rekomendasi dari Perpusda Boyolali Tumpi dapat bermitra dengan Perpuseru.

T: Berapa jumlah pengelola rumah baca Tumpi?

J : Relawan sebenarnya banyak namun datang dan pergi, yang selalu konsisten merawat rumah baca ada 2–4 orang.

 

Oleh : Joko Narimo, Pengelola Tumpi Readhouse

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*